Ketika sebagian besar masyarakat mulai sibuk menyiapkan kue lebaran dan baju baru, suasana berbeda terasa di lingkungan Satlantas Polres Nganjuk. Di sana, hiruk-pikuk persiapan justru berfokus pada bagaimana memastikan setiap pemudik bisa sampai ke kampung halaman dengan selamat. Rabu pagi (4/3/2026) menjadi momen penting di mana seluruh personel dikumpulkan bukan untuk berpamitan cuti bersama, melainkan untuk menjalani "uji kelayakan" sebelum bertugas. Operasi Ketupat Semeru 2026 yang akan dimulai 14 Maret mendatang menuntut kesiapan luar biasa, dan apel siang itu adalah langkah awal untuk memastikan tidak ada celah kekurangan yang bisa menghambat kelancaran arus mudik.
Para petugas lalu lintas yang akan berjaga di berbagai titik rawan macet dan kecelakaan di Kabupaten Nganjuk diperiksa dengan saksama. Fokus utamanya adalah kelengkapan peralatan yang menemani mereka 24 jam selama operasi berlangsung. Bayangkan, mereka harus siap siaga kapan saja, di mana saja. Karena itulah, senter lalu lintas untuk mengatur kendaraan di malam hari, jas hujan untuk melindungi tubuh saat bertugas di tengah badai, serta alat komunikasi (HT) untuk koordinasi cepat, menjadi barang wajib yang tidak boleh tertinggal. Jika ada satu saja alat yang rusak atau tidak lengkap, maka kesiapan operasi di lapangan bisa terganggu.
AKP Ivan Danara Oktavian, dengan tegas menyampaikan bahwa operasi ini adalah tentang melayani masyarakat dengan hati. Sehebat apa pun teknologi pengatur lalu lintas, tetap saja sentuhan humanis dari seorang petugas yang sigap dan raplah yang akan dirasakan langsung oleh pemudik. Melalui pemeriksaan personel ini, Polres Nganjuk ingin mengirim pesan bahwa mereka serius dalam menciptakan rasa aman dan nyaman. Strateginya sederhana namun mendalam: pastikan petugasnya sehat, lengkap alatnya, dan siap mental melayani, maka kelancaran arus mudik akan mengikuti dengan sendirinya. Masyarakat pun bisa bernapas lega, karena keselamatan mereka selama di perjalanan menjadi prioritas utama.

.jpeg)