Bukan Sekadar Apel: Polda Jatim Libatkan 186 Ribu Mitra untuk Jaga Kamtibmas Hingga Tingkat Desa


Kamis (30/4/2026), Mapolda Jatim menjadi saksi dari sebuah gerakan besar yang melibatkan ribuan mata dan telinga kepolisian dari berbagai elemen masyarakat. Apel besar Sabuk Kamtibmas yang dipimpin Waka Polda Jatim Brigjen Pol Pasma Royce ini menghadirkan 1.980 peserta langsung, mewakili total 186.784 mitra yang tersebar di seluruh Jawa Timur. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast menjelaskan bahwa Sabuk Kamtibmas adalah wujud nyata dari program "Jogo Jatim" yang diinisiasi Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, yakni sinergi antara Polri dan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi gangguan keamanan. Yang membedakan kali ini adalah skala dan keberlanjutan programnya hingga tingkat desa.

Komposisi Sabuk Kamtibmas sangat beragam, mencerminkan lapisan masyarakat yang sesungguhnya. Ada organisasi pencak silat yang dikenal disiplin, Banser dengan basis keagamaan yang kuat, Kokam yang dekat dengan warga, Pemuda Pancasila yang memiliki jaringan luas, hingga komunitas ojek online yang setiap hari bergerak di berbagai penjuru kota. Kombes Abast menegaskan bahwa semua elemen ini hadir dengan satu visi: menjaga stabilitas kamtibmas di Jawa Timur. Peran mereka tidak main-main, mencakup pengamanan mako secara statis, pengamanan unjuk rasa secara dinamis, hingga antisipasi konflik sosial, hoaks, dan bahkan dinamika geopolitik.

Polda Jatim dalam apel ini juga menekankan lima poin strategis. Penguatan pencegahan gangguan keamanan menjadi prioritas utama. Penghilangan ego sektoral dianggap krusial karena selama ini sering terjadi gesekan antarkomunitas. Koordinasi lintas wilayah ditingkatkan karena potensi gangguan tidak mengenal batas administrasi. Peran aktif Kapolres dan pengawas wilayah dipastikan untuk menjaga stabilitas daerah. Tak ketinggalan, mitigasi bencana seperti karhutla dan krisis sosial juga menjadi perhatian serius. Dengan poin-poin ini, Sabuk Kamtibmas dirancang sebagai sistem pertahanan keamanan yang komprehensif dan terintegrasi.

Kombes Abast mengajak semua elemen untuk menjaga ruang demokrasi tetap sehat dan damai, bebas dari provokasi dan aksi anarkisme. Ia menegaskan bahwa stabilitas keamanan adalah fondasi pembangunan dan investasi. Tanpa itu, program pemerintah tidak akan berjalan optimal. Karena itu, Sabuk Kamtibmas tidak boleh menjadi kegiatan seremonial belaka. Gerakan ini harus hidup hingga tingkat desa dan kelurahan, melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh komponen. Jika Polri dan masyarakat bergerak bersama, setiap potensi ancaman akan berubah menjadi kekuatan persatuan. Inilah jalan menuju Jawa Timur yang tangguh, aman, dan sejahtera bagi semua.(Avs)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama