Di balik kelancaran arus mudik Lebaran 2026 di Jawa Timur yang mencapai 2,1 juta kendaraan, terdapat ribuan cerita tentang dedikasi personel yang bertahan siang dan malam menjaga titik-titik rawan. Kombes Pol Jules Abraham Abast, Kabid Humas Polda Jatim, saat memaparkan hasil evaluasi Operasi Ketupat Semeru 2026, tidak hanya menyoroti angka peningkatan 18 persen volume kendaraan, tetapi juga mengapresiasi kerja keras tim di lapangan yang memastikan perjalanan para pemudik tetap aman. Di tengah lonjakan yang terjadi, baik di jalur arteri perbatasan Magetan-Jawa Tengah yang melonjak 514 persen maupun di ruas tol Probolinggo-Situbondo dengan 525.463 kendaraan, personel kepolisian menjadi garda terdepan yang mengatur ritme perjalanan jutaan manusia.
Setiap titik yang disebutkan dalam evaluasi ini memiliki dinamikanya sendiri. Di jalur arteri, yang masih menjadi pilihan utama masyarakat, personel harus ekstra sabar menghadapi volume kendaraan yang tidak hanya padat tetapi juga padat dengan muatan emosional para pemudik yang ingin cepat sampai. Sementara di jalur tol, tantangannya berbeda: menjaga kecepatan dan jarak aman di tengah kepadatan yang meningkat hingga 34 persen. Kombes Abast menekankan bahwa pendekatan humanis menjadi kunci, di mana petugas tidak hanya menegakkan aturan tetapi juga hadir sebagai pelayan masyarakat yang siap membantu kapan saja.
Lonjakan penumpang angkutan umum sebesar 21 persen menjadi tantangan tersendiri bagi pengamanan di titik-titik simpul transportasi. Terminal Purabaya/Bungurasih, misalnya, mengalami peningkatan penumpang masuk hingga 66 persen, sebuah angka yang mengubah wajah terminal menjadi pusat aktivitas yang membutuhkan pengaturan ekstra. Stasiun Gubeng Surabaya dengan kenaikan 42 persen dan Bandara Juanda dengan 567.096 penumpang juga menjadi fokus perhatian, di mana kehadiran personel tidak hanya untuk keamanan tetapi juga untuk memberikan rasa nyaman bagi keluarga yang sedang dalam perjalanan pulang kampung.
Imbauan yang terus-menerus disampaikan oleh Kombes Abast kepada masyarakat, agar tidak memaksakan diri saat lelah dan memanfaatkan rest area serta pos pengamanan, bukan sekadar seruan prosedural. Di balik itu semua, ada pesan kepedulian yang mendalam dari aparat yang memahami bahwa perjalanan jauh membawa risiko kelelahan yang nyata. Pos-pos pengamanan yang didirikan di berbagai titik menjadi lebih dari sekadar tempat pemeriksaan; mereka menjadi tempat singgah yang menyediakan fasilitas istirahat, informasi, dan pertolongan pertama bagi para pemudik yang membutuhkan.
Ketika Operasi Ketupat Semeru 2026 memasuki fase evaluasi, yang paling membanggakan bukan hanya angka 2,1 juta kendaraan yang bergerak lancar, tetapi bagaimana setiap pemudik dapat tiba di tujuan dengan selamat. Keberhasilan ini adalah buah dari kolaborasi antara kesadaran masyarakat dan pengabdian tanpa lelah para personel di lapangan. Polda Jatim telah menunjukkan bahwa di tengah lonjakan mobilitas tertinggi, kehadiran negara melalui aparatnya mampu memberikan rasa aman yang hakiki, menjadikan momen mudik tahun ini sebagai perjalanan yang tidak hanya padat, tetapi juga penuh dengan ketenangan dan kepastian.(Avs)
