Siapa sangka sebuah buku resep bisa menjadi alat diplomasi yang ampuh? Rasa Bhayangkara Nusantara, buku yang ditulis bersama oleh Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo dan Dirgayuza Setiawan, telah membuktikan hal itu. Dalam perjalanannya yang menembus London, Davos, Washington D.C., Jeddah, Jepang, dan kini Korea Selatan, buku ini membawa pesan bahwa Polri memiliki peran yang lebih luas dari yang dibayangkan banyak orang. Bukan hanya menjaga keamanan dalam negeri, tetapi juga aktif membawa inovasi dan identitas bangsa ke panggung global, dimulai dari nilai-nilai kemanusiaan yang paling dasar: pangan bergizi.
Kehadiran buku ini di Korea Selatan menjadi babak penting karena negara ginseng tersebut memiliki pengalaman panjang dalam menjalankan program makan bergizi nasional. Dirgayuza, yang menyerahkan buku tersebut kepada Duta Besar Cecep Herawan di Seoul, melihat bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari. "Setiap tahunnya, Korea Selatan mengalokasikan anggaran sekitar 80 triliun rupiah dan membutuhkan waktu kurang lebih 20 tahun untuk menerapkan MBG secara nasional," ungkapnya. Lewat buku ini, Indonesia tidak hanya bercerita tentang kekayaan kulinernya, tetapi juga menunjukkan keseriusannya dalam membangun kebijakan publik yang berkelanjutan, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan negara yang telah lebih dahulu sukses.
Buku ini menjadi bukti nyata bahwa gastrodiplomasi adalah wajah baru Indonesia. Wakapolri menegaskan bahwa perjalanan buku ini dari Eropa hingga Asia Timur adalah bagian dari strategi besar untuk memperkuat posisi Indonesia. Setiap titik persinggahan—mulai dari forum ekonomi dunia hingga kedutaan besar di berbagai negara—adalah panggung untuk menunjukkan bahwa kebijakan strategis dapat dikomunikasikan melalui budaya. Dan di tengah semua itu, Polri hadir sebagai penggerak yang membawa semangat kebersamaan, membuktikan bahwa institusi keamanan pun bisa menjadi duta budaya dan inovasi yang membanggakan.(Avs)
.jpeg)