Hotel Sutan Raja di Soreang, Bandung, Sabtu pekan lalu, bukan sekadar tempat pelantikan pengurus baru Pemuda Persis. Lebih dari itu, ruangan itu menjadi saksi pidato Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang bernada alarm peringatan. Ia membuka Muktamar XIV dengan nada serius, bukan basa-basi. Menurutnya, para pemuda yang hadir kelak akan mewarisi dunia yang lebih kacau dari sekarang, penuh dengan ketidakpastian ekonomi, politik global yang bergolak, dan kejahatan lintas batas yang sulit dibendung.
Sigit memaparkan fakta bahwa teknologi yang seharusnya mempermudah hidup justru menjadi pisau bermata dua. Misinformasi yang menyesatkan, menurutnya, bisa lebih berbahaya dari serangan fisik karena ia membelah persatuan dari dalam. Karena itu, ia tidak meminta pemuda Persis untuk menjadi polisi tambahan. Ia hanya meminta mereka untuk cerdas menyaring informasi dan berani meluruskan kebohongan publik yang beredar di medsma mereka.
Di sisi lain, Kapolri menyentuh isu yang lebih mendasar: kesiapan Indonesia menghadapi tekanan global. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto sudah meluncurkan berbagai program, tetapi semua itu akan gagal jika rakyatnya tidak bersatu. Ia mengingatkan kembali sejarah perjuangan merebut kemerdekaan, di mana para pejuang dulu rela mengorbankan segalanya demi menjaga nilai persatuan. Semangat itulah yang harus dihidupkan ulang oleh pemuda Persis saat ini.
Di akhir sambutannya, Sigit secara eksplisit mengatakan bahwa Polri dan Persis ke depan akan terus meningkatkan soliditas. Ia ingin kolaborasi yang sudah terjalin tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan. Para kader yang hadir kemudian bergumam setuju. Mereka sadar bahwa PR besar telah menanti, dan tidak ada pilihan selain bergerak bersama.(Avs)
