Rimbang Baling yang sejuk tiba-tiba berubah menjadi kampus lapangan yang gaduh oleh suara diskusi sengit pada 25-26 April 2026. Sekitar 150 mahasiswa yang tergabung dalam BEM dan organisasi Cipayung Plus se-Provinsi Riau rela mengorbankan akhir pekan mereka. Tujuannya: belajar bagaimana cara membongkar jaringan kriminalitas lingkungan yang telah puluhan tahun membiarkan lahan gambut terbakar tanpa ada efek jera.
Head of Tumbuh Foundation, Azairus Adlu, dalam pidato pembukaannya dengan lantang menolak narasi bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam biasa. Ia menyebutnya sebagai kejahatan terstruktur yang sengaja dipelihara demi kepentingan bisnis lahan murah. Menurutnya, jika narkoba dianggap sebagai musuh nomor satu yang harus diberantas dengan tembak di tempat, maka karhutla pun layak mendapatkan keseriusan yang setara.
Malam harinya, Kapolda Riau yang duduk di samping Rocky Gerung mengakui bahwa aparatnya tak akan mampu bertarung sendirian. Ia membutuhkan mata dan telinga mahasiswa di desa-desa rawan api. Rocky kemudian menimpali dengan pernyataan menggugat: bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini sebenarnya hanyalah cermin kecil dari krisis tata kelola global. Sementara Hurriah menangis pilu saat bercerita tentang desa-desa yang penduduknya mulai menderita kanker akibat kabut asap tahunan.
Aktivitas tak berhenti di atas tikar diskusi. Para peserta juga mengikuti simulasi pemadaman api bersama tim Manggala Agni dan belajar teknik pengumpulan bukti dari penyidik kepolisian. Mereka juga menyusun draf rekomendasi kebijakan untuk gubernur Riau. Dalam penutupan, seluruh keningat bersepakat bahwa gerakan sporadis sudah tidak cukup; yang dibutuhkan saat ini adalah front kolektif permanen antara mahasiswa, polisi, dan intelektual.(Avs)
