Bukan Sekadar Dokumentasi: Pusjarah Polri Buktikan Diri Sebagai Garda Depan Reaktualisasi Nilai di Era Polri Presisi


Selama ini, Pusat Sejarah Polri mungkin dipandang sebelah mata sebagai lembaga yang hanya mengurusi foto-foto usang dan arsip berdebu. Namun, Rakernis yang digelar 11-12 Mei 2026 di Hotel Oakwood TMII, Jakarta Timur, membantah anggapan itu. Dengan tema “Reaktualisasi Tribrata dan Catur Prasetya untuk Penguatan Polri Presisi”, Pusjarah justru menunjukkan peran strategisnya dalam membentuk karakter anggota Polri hari ini. Brigjen Pol Abas Basuni, Kapusjarah, dengan tegas menyatakan bahwa profesionalisme tugas Polri tidak muncul begitu saja, melainkan melalui upaya nyata yang terimplementasi dalam program dan kebijakan. Ia mengingatkan seluruh peserta, baik yang hadir langsung maupun daring, bahwa Tribrata dan Catur Prasetya adalah pedoman hidup sekaligus pedoman kerja.

Rakernis kali ini menghadirkan deretan narasumber kunci. Irwasum Polri (diwakili Brigjen Pol Eddy Hermanto) dan As SDM Kapolri (diwakili Brigjen Pol Budhi Herdi Susianto) memberikan penguatan tentang integritas dan profesionalisme sumber daya manusia menuju Polri Presisi. Namun yang paling mencuri perhatian adalah paparan Kadiv Humas Irjen Pol Johnny Eddizon Isir tentang strategi menghadapi perkembangan teknologi informasi. Di era banjir informasi, kata dia, setiap personel Polri termasuk di Pusjarah memiliki peran menyampaikan informasi secara profesional, terbuka, dan mudah dipahami. Masyarakat berhak mendapat gambaran utuh tentang kinerja Polri, dan itu tidak bisa dilakukan dengan gaya komunikasi kuno.

Sementara itu, Kadiv Propam yang diwakili AKBP Dr. H. Heru Waluyo memberikan perspektif yang tidak kalah penting. Ia menekankan bahwa pelanggaran disiplin, kode etik, atau tindak pidana di lingkungan Polri sering kali lahir dari longgarnya internalisasi Tribrata dan Catur Prasetya. Karena itu, penguatan kembali nilai-nilai tersebut melalui Rakernis semacam ini adalah investasi jangka panjang untuk pencegahan. Komisioner Kompolnas RI Irjen Pol (Purn) Ida Oetari Poernamasari turut memberikan apresiasi, menilai Pusjarah telah mengambil langkah maju dengan menjadikan sejarah sebagai alat kontrol sosial internal.

Pesan pamungkas dari Rakernis ini adalah seruan Brigjen Abas Basuni: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Sejarah, baginya, adalah sarana pengikat dan pengingat insan Bhayangkara dalam menjaga identitas bangsa serta memberikan pelayanan berintegritas. Pusjarah Polri berkomitmen untuk terus melestarikan dan menginternalisasikan nilai-nilai dasar kepolisian di tengah dinamika global. Jika berhasil, maka Polri Presisi bukan sekadar jargon, tetapi kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. (Avs)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama