Ruang rapat yang khidmat berubah menjadi panggung evaluasi jujur saat Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo berdiri di hadapan jajaran Korlantas, Jumat (22/5/2026). Rakernis Fungsi Korlantas Polri Tahun Anggaran 2026 resmi dimulai, tapi bukan dengan pujian semata.
Prestasi Operasi Ketupat 2026 memang layak diapresiasi. Angka kecelakaan turun 5,31 persen, korban meninggal turun 30,41 persen, dan tingkat kepuasan masyarakat mencapai 85,3 persen.
Tapi Dedi memilih untuk tidak larut dalam rasa bangga. Ia justru membeberkan fakta lain: black spot masih menganga, perlintasan sebidang kereta api menjadi langganan kecelakaan, dan kemacetan di kota besar belum terurai sempurna.
Digitalisasi layanan lalu lintas menjadi jawaban yang ia tawarkan, bukan sekadar untuk efisiensi, melainkan untuk membangun transparansi dan kemudahan akses. ETLE, integrasi CCTV, pemanfaatan AI, hingga sistem real time adalah senjata utama.
Lebih dari itu, Dedi mengingatkan bahwa citra Polri di mata publik sangat ditentukan oleh perilaku personel Polantas di lapangan. Karena itu, smart policing harus berjalan beriringan dengan pelayanan humanis dan profesional.
Penutup arahannya berbunyi tegas: lalu lintas adalah refleksi peradaban bangsa. Maka Polantas wajib menjadi garda terdepan yang membangun budaya tertib dan keselamatan, bukan sekadar penegak hukum yang ditakuti.(Avs)
