Angka 85,3 persen bukan sekadar statistik. Itulah tingkat kepuasan publik terhadap penyelenggaraan mudik Lebaran 2026 berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia. Burhanuddin Muhtadi menambahkan bahwa 79,8 persen responden juga percaya angka kecelakaan lalu lintas, baik ringan maupun fatal, mengalami penurunan. Capaian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan berhasil menciptakan pengalaman mudik yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat tidak hanya sampai di kampung halaman dengan selamat, tetapi juga merasakan pelayanan yang lebih manusiawi di sepanjang perjalanan.
Devie Rahmawati dari Universitas Indonesia menguraikan tiga resep sukses di balik keberhasilan ini. Pertama, ekosistem keselamatan yang terkoordinasi antara Polri, Kementerian Perhubungan, dan institusi terkait melalui rekayasa lalu lintas, ETLE, serta perbaikan sistem transportasi. Kedua, kehadiran nyata negara di lapangan lewat Operasi Ketupat 2026, di mana pos-pos pengamanan di jalur mudik meningkatkan rasa aman sekaligus menekan potensi pelanggaran. Ketiga, kesadaran kolektif masyarakat yang kini lebih patuh terhadap aturan berlalu lintas. "Ketika masyarakat melihat kehadiran petugas secara nyata, itu meningkatkan kewaspadaan dan memberikan rasa aman bahwa negara hadir," jelas Devie.
Pemanfaatan teknologi informasi real time oleh Polri juga mendapat apresiasi khusus karena membantu pemudik merencanakan perjalanan yang lebih aman dan efisien. Keberhasilan ini, menurut Devie, bukan monopoli negara semata, melainkan hasil gotong royong antara kebijakan yang tepat, kehadiran aparat, dan kesadaran warga. Dengan capaian 85,3 persen kepuasan publik, mudik Lebaran 2026 membuktikan bahwa ketika teknologi, kehadiran negara, dan partisipasi masyarakat berjalan beriringan, tradisi tahunan ini bisa berlangsung tanpa korban dan trauma. Semoga ini menjadi awal dari standar baru penyelenggaraan mudik di Indonesia.(Avs)
